September 24, 2021

GKT Hosana

Berakar, Bertumbuh, Berbuah.

Menerima Undangan-Nya

Lukas 14:15-24

Bayangkan, jika kita menolak undangan dari-Nya? Tentu kita akan mendapatkan hukuman yang begitu besar, yaitu kekekalan maut. Pada Lukas 14:15-24, kita dapat membaca perumpamaan yang dinyatakan Tuhan Yesus, bahwa mereka yang menerima undangan tersebut adalah orang-orang yang dikucilkan masyarakat. Mereka merupakan orang-orang yang selama ini dianggap tidak penting.

Pada Firman yang kita baca, ada yang menolak karena harus mengurusi ladang barunya (ay. 18). Ada yang menolak karena harus mengurusi ternak yang baru dia beli (ay. 19). Ada juga yang menolak karena hubungan pernikahan yang baru dijalaninya (ay. 20). Dan jika kita melihat hukum perang yang tertulis di Ul. 20:5-7, maka nampaknya alasan-alasan tersebut dikutip dari peraturan tentang hukum tersebut. Dengan demikian bukankah bisa kita katakan bahwa, mereka menyamakan undangan tuan itu dengan undangan untuk perang? Itu artinya mereka menganggap undangan tersebut adalah beban yang harus mereka tanggalkan; bukan sukacita yang ingin mereka alami

Dalam kaitannya dengan Allah dan Kerajaan-Nya, kita perlu berjuang sebagai orang-orang yang akan menikmati kebahagiaan Kerajaan-Nya. Hal ini dapat kita lihat di dalam Lukas 14:27 bahwa, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, Ia tidak menjadi murid-Ku.” Pernyataan Tuhan Yesus itu menjelaskan lebih lanjut bahwa sebagai pengikut-Nya, kita perlu mengalami perjuangan yang digambarkan layaknya “memikul salib.” Namun bukankah Dia mengaruniakan Roh Kudus sebagai Penolong bagi orang percaya? (lih. Yoh. 14:16)

Jika kita memiliki iman untuk menjadi seorang pengikut Kristus, itu pun adalah suatu anugerah. Kita adalah orang-orang yang sesungguhnya akan menikmati kebahagiaan Kerajaan Allah, jika kita dapat percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikut Dia dengan sungguh. Meski harus berjuang menyangkali kemanusiaan kita dan menaati seluruh Firman yang dinyatakan-Nya. Lalu, jika kita menganggap indah suatu pemilihan dan undangan Allah bagi kita, akankah kita menjadikan relasi dengan Allah sebagai suatu beban?

Oleh Stephanie Esmeralda L