October 21, 2021

GKT Hosana

Berakar, Bertumbuh, Berbuah.

Iman yang benar

Yakobus 2:14-20

Pendahuluan:

Dalam kehidupan ini, kerap kali umat Kristiani hidup tidak mencerminkan Kristus “menanggalkan Kristus”, sehingga hidup mereka tidak menjadi kesaksian yang harum bagi kemuliaan Allah. Mereka mengidentitaskan diri sebagai pengikut Kristus, beriman kepada Kristus, namun mereka hidup tanpa Kristus. Inilah yang diungkapkan juga oleh Michael Horton di bukunya Kekristenan Tanpa Kristus, bahwa umat Kristiani hidup tanpa Kristus, mereka hidup yang berpusat pada diri sendiri “narsisme”. Maka dari hal ini, kita perlu merenungkan kembali apa itu iman yang benar dari Surat Yakobus.

Eksposisi

Penerima Surat Yakobus:

Yakobus 1:1 – “kepada kedua belas suku di perantauan”, 2:2 “Jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu “your synagogue” (tempat ibadah Yahudi), 1:18 “atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh Firman kebenaran” sehingga penerima surat ini adalah orang-orang Yahudi Kristen (dilahirkan kembali oleh Firman) yang berada di perantauan (diaspora).

Konteks surat Yakobus menunjukkan bahwa para penerima surat ini cenderung terjebak pada konsep keagamaan yang teoritis belaka yang tidak terwujud dalam kehidupan nyata.

Dari perikop ini kita akan belajar apakah iman yang benar itu?, antara lain:

  1. Iman yang benar adalah kepedulian terhadap sesama yang berkekurangan vv. 14-17

Dalam v. 14, Penulis menggunakan pertanyaan retorik, yakni: 14a “apakah gunanya (guna di sini berbicara mengenai manfaat/keuntungan yang akan diperoleh dari suatu objek/menganggap bahwa sesuatu yang penting dari yang lainnya) mempunyai iman (Iman adalah sesuatu yang kita yakini/benar-benar percayai “gantungkan diri padanya”) tapi tanpa perbuatan? – The answer is tidak ada! ” 14b “dapatkah iman itu menyelamatkan dia? – the answer is tidak dapat!” kata “dia” ini menunjuk orang berkecukuan yang mengklaim dirinya percaya Tuhan Yesus. Penulis dalam hal ini tidak meremehkan peranan iman dalam keselamatan. Hal ini dapat dilihat dari fungsi artikel “itu” di depan kata “iman” yang mengindikasikan bahwa Yakobus sedang membicarakan iman yang tertentu (sebagai pointer), yaitu iman yang tidak memiliki perbuatan, yang diklaim oleh seseorang di ayat 14a.

Penulis memakai pertanyaan retorik ini untuk mengajak para pembaca memikirkan kembali dari implikasi iman.

Dalam vv. 15-16, Penulis memakai ilustrasi orang yang berkekurangan (kekurangan pakaian dan makanan) – diakhiri dengan kalimat “apakah gunanya? – the answer is tidak ada! Orang miskin yang membutuhkan dalam ilustrasi ini adalah orang percaya (saudara dan saudari – yang dijelaskan sebagai orang yang berkekurangan “kata sifat “telanjang” dan “kekurangan” yang memberikan informasi pada kata noun “saudara dan saudari”). Penulis mengutarakan bahwa orang yang dimintai tolong juga adalah orang Kristen (“seseorang di antara kamu” sebagai personal pronoun yang menunjuk bahwa yang mengatakan adalah orang berkecukuan yang mengklaim dirinya percaya Tuhan Yesus). Menurut seorang ahli menjelaskan bahwa kemiskinan memang menyebar luas di masyarakat Kerajaan Romawi abad pertama. Melalui ilustrasi ini penulis ingin memberitahukan kepada penerima surat bahwa jika saudara seiman saja tidak mau ditolong, apalagi dengan orang lain yang tidak seiman.

Dalam v. 17, Penulis memberikan konklusi dari apa yang dipaparkan di v. 14 maupun ilustrasi di vv. 15-16. Intinya adalah iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Istilah hakekat/being pada kalimat ini menegaskan bahwa iman di ayat 14 bukanlah iman sama sekali, iman seperti ini dalam dirinya sendiri sudah mati. Iman ini tidak dapat melakukan tindakan apapun karena dari dalamnya memang sudah mati.

Kesimpulan: Iman yang benar sudah seharusnya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni mengasihi orang lain dan memperhatikan, serta menolong mereka yang membutuhkan, apalagi saudara-saudari seiman kita. Iman yang benar dapat dirasakan oleh orang-orang yang ada disekitar kita.

  1. Iman yang benar bukanlah suatu pernyataan melainkan suatu aksi vv. 18-20

Dalam v. 18, dimulai dengan “tetapi mungkin ada orang berkata” frasa ini dipakai untuk mengantisipasi kalau ada orang yang menyanggah atau menuntut penjelasan lebih dari apa yang sudah disampaikan oleh penulis “diatribe”. Frasa “kamu memiliki iman dan aku memiliki perbuatan” tidak merujuk pada orang yang dikritik maupun Yakobus, keduanya hanya mewakili seseorang yang memiliki iman saja dan orang lain yang memiliki perbuatan saja (Pdt. Yakub Tri). Penulis di ayat ini menyiratkan bahwa ada orang-orang tertentu yang berpikir bahwa iman dan perbuatan merupakan dua hal yang terpisah (menurut beberapa penafsir bahwa mereka yang memisahkan iman dan perbuatan adalah mereka yang memiliki konsep bahwa iman dan perbuatan adalah karunia Roh Kudus, yang tidak perlu dimiliki oleh setiap orang percaya). Penulis membantah argumentasi ini dengan menegaskan bahwa iman yang benar tidak bisa dipisahkan oleh perbuatan. Orang lain tidak bisa melihat ke dalam hati kita untuk mengetahui apakah kita memiliki iman yang benar atau tidak, melainkan mereka hanya bisa melihat dari perbuatan baik kita.kata “menunjukkan” dalam konteks ayat ini memiliki arti “membuktikan”.

Dalam v. 19, analogi iman kepercayaan setan-setan, penulis memberikan contoh iman yang dimiliki oleh setan-setan sebagai gambaran dari mereka yang hanya beriman secara kognitif tetapi iman itu tidak membawa dampak dalam hidup mereka. Penulis menggunakan frasa “percaya bahwa” Allah itu Esa, hal ini menjelaskan bahwa mereka (orang-orang tertentu yang berpikir bahwa iman dan perbuatan merupakan dua hal yang terpisah) beriman secara kognitif. Menurut seorang ahli, frasa yang dipakai untuk menunjukkan iman seseorang yang sungguh-sungguh kepada Allah adalah “percaya dalam” atau “percaya kepada”. Penulis tidak mengatakan bahwa iman secara intelek ini sepenuhnya salah, karena ia memberikan respon “itu baik (engkau melakukan dengan baik)” namun belum benar.

Dalam v. 20, Penulis memanggil mereka (orang-orang tertentu yang berpikir bahwa iman dan perbuatan merupakan dua hal yang terpisah) adalah bebal (memiliki nuansa dangkal, kosong) yang mereujuk kepada orang-orang yang rendahk secara moral-intelektual. Frasa “apakah engkau ingin bukti” dipakai penulis untuk membuktikan bahwa iman tanpa perbuatan adalah kosong (mandul, tidak berguna, mati, sia-sia). Penulis memakai istilah kosong untuk menjelaskan bahwa iman yang tidak memiliki perbuatan adalah tidak berbuat apa-apa.

Kesimpulan: Iman yang benar bukanlah suatu pernyataan yang terlahir dari kognitif yang diungkapkan melalui mulut, melainkan harus terlihat dari aksinya.

Ev. Andry Ligawan