August 4, 2021

GKT Hosana

Berakar, Bertumbuh, Berbuah.

Hidupku Bukan Tentang Diriku

Roma 14:7-13

Dalam film-film yang sering kita tonton, seluruh kisah akan merujuk kepada tokoh utamanya. Para tokoh lainnya seolah-olah hanya sebagai pendukung bagi tokoh utama untuk menyelesaikan misinya. Dan itulah yang bisa kita lihat dalam suatu film, di mana sebagian besar sorotan kamera akan tertuju pada tokoh utama tersebut. Lalu jika merefleksikannya ke dalam kehidupan pribadi kita masing-masing, pernahkah kita berpikir bahwa kita menempatkan diri sebagai tokoh utama dalam kehidupan ini? Sehingga mungkin saja tanpa disadari, keegoisan dan keangkuhan merasuki diri kita.

Pandangan dunia yang berpusat pada diri sendiri dapat membuat seseorang merasa bahwa hidup ini hanya tentang dirinya sendiri. Alam semesta dianggap ada untuk memuaskan manusia dan Allah seakan- akan menjadi pelayan yang menciptakan segala sesuatu untuk kepuasan diri manusia. Sehingga umat manusia merasa tidak bertanggung jawab atas segala kerusakan yang terjadi di dalam dunia.

Orang Kristen juga tidak terlepas dari pemikiran dan sikap yang berpusat pada diri sendiri, secara khusus dalam kehidupan kerohanian. Beberapa orang Kristen berpikir bahwa hidup kerohaniannya hanya untuk dirinya sendiri. Tapi bukankah secara rohani kita memiliki tanggung jawab sebagai hamba-Nya untuk orang- orang di sekitar kita? Sehingga lewat kerohanian yang kita alami, setiap orang dapat diperkenalkan kepada Yesus Kristus. Dan bagi mereka yang terpanggil untuk percaya kepada-Nya akan menerima sukacita serta damai sejahtera, sebagai wujud dari keselamatan kekal yang diterimanya.

Dalam suratnya untuk jemaat di Roma, Paulus juga mengingatkan agar jemaat memelihara kerohanian yang sejati sebagai manusia baru, yang mana di dalamnya ada sikap penuh ketaatan dan kecintaan terhadap Allah. Dengan begitu, Paulus ingin agar para jemaat tidak menjadi serupa seperti dunia ini dan dapat mengidentifikasi apa yang menjadi kehendak Allah (Roma 12:2). Namun sepertinya permasalahan yang sedang terjadi di dalam jemaat Roma adalah perpecahan karena perbedaan pendapat tentang makanan dan hari Sabat. Kondisi demikian merupakan dampak dari jemaat yang multietnis. Sehingga pada pasal 12, Paulus menekankan tentang pentingnya mengasihi dan berekonsiliasi dengan cara berfokus pada pribadi Allah yang sudah memberikan mereka anugerah.

Lalu pada pasal 14:7-9 dia mengingatkan kembali tentang kenyataan bahwa setiap manusia, sejatinya diciptakan untuk menjadi milik Allah. Dan lewat pengorbanan Yesus Kristus, maka setiap orang yang percaya kepada-Nya–bahkan ketika dia meninggalkan dunia ini– tetap menjadi milik Allah. Sehingga tidak ada yang bisa membatasi kenyataan bahwa manusia harus melayani Allah.

Sebagai orang Kristen yang beriman di dalam Yesus Kristus, kita seharusnya menyadari bahwa hidup untuk diri sendiri merupakan sikap yang melawan Allah. Dan dengan kesadaran tersebut kiranya ada kemauan untuk merendahkan diri, yaitu dengan menanggalkan keangkuhan dan ketidakpedulian terhadap sekitar kita.

Oleh karena itu pada ayat 10-13 Paulus mengingatkan untuk menghindari sikap angkuh yang saling menghakimi satu sama lain. Fokus kita harus tertuju pada Allah sebagai pemilik hidup dari semua ciptaan-Nya. Kemudian kita perlu berpegang pada pandangan bahwa, kita harus menjadi penolong untuk orang-orang yang mau mengenal Yesus supaya mereka semakin memiliki iman yang kuat di dalam-Nya. Bukan menjadi batu sandungan yang dapat mengakibatkan seseorang berbuat dosa, sehingga secara tidak langsung kita sudah menghalangi langkah orang tersebut untuk semakin mengenal Dia.

Jika kita merenungkan kembali keberadaan kita sebagai orang Kristen di dunia ini, apakah kita semata-mata diciptakan untuk dikuduskan dan diselamatkan? Tujuan dari keberadaan kita sebagai orang Kristen adalah untuk memperkenalkan Yesus, sebagai Allah Tritunggal yang merupakan Tuhan dan Juruselamat manusia (Yoh. 17:21-22). Dan itu dapat kita lakukan lewat karya di dalam setiap pelayanan bagi-Nya. Hidup pelayanan kita bagi Allah seharusnya merupakan cara kita untuk berterima kasih, atas anugerah keselamatan yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata.

Namun apakah kita sanggup untuk melakukan semua itu di tengah seluruh pergumulan yang harus kita lalui dan di tengah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini? Sebetulnya kita tidak sanggup untuk menyatakan bahwa hidup ini adalah tentang Allah. Karena selama kita di dunia, kita akan berkonflik dengan kedagingan kita yang mendorong untuk mencari kepentingan bagi diri sendiri. Namun oleh kuasa Roh Kudus yang diturunkan bagi orang percaya (Kisah Para Rasul 1:8), maka seharusnya ada kesanggupan untuk memberi kesaksian bahwa seluruh kehidupan ini berbicara tentang kemuliaan Allah di dalam Yesus Kristus.

Melalui perenungan ini marilah kita kembali menyadari bahwa hidup kita adalah tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, yang sudah memberikan kita anugerah keselamatan. Sehingga dengan demikian kita memiliki kerinduan untuk terus memelihara kerohanian di dalam-Nya dan semakin menyatakan buah kerohanian tersebut dengan mewujudkan kebaikan dan kemuliaan Yesus Kristus. Biarlah kita melakukan itu dengan penuh sukacita di tengah tekanan hidup yang mungkin sering kali mendorong untuk berfokus pada diri sendiri.

Menjadi saksi tentang Yesus Kristus berarti kita harus menanggalkan seluruh kehendak daging kita dan memilki satu motif dalam hidup, yaitu melakukan segala hal hanya untuk Allah. Itu berarti kita perlu siap jikalau harus dipandang sebelah mata, asalkan kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang yang ada disekitar kita. Maka bersediakah kita menjadi sarana kemuliaan-Nya untuk menyatakan bahwa hidup ini bukanlah tentang diri kita, namun tentang Allah di dalam Yesus Kristus? Kiranya Allah Roh Kudus senantiasa menguatkan dan menghibur kita di tengah tugas pelayanan sebagai saksi-saksi Kristus. Amin.

Oleh Stephanie Esmeralda L