September 28, 2021

GKT Hosana

Berakar, Bertumbuh, Berbuah.

Di Balik Kesulitan

Yohanes 9:1-7
9:1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. 
9:2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” 
9:3 Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.  
9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. 
9:5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” 
9:6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi 
9:7 dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam. ” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.

Bapak-Ibu yang terkasih dalam Tuhan, seringkali kita mengeluh mengapa sesuatu hal itu terjadi dalam diri kita. Mengapa saya kena sakit yang tidak sembuh-sembuh, mengapa masalah seperti ini ada dalam keluarga, mengapa semua ini harus terjadi…? Memang ketika kita menghadapi cobaan dalam hidup, itu tidak enak. Siapa yang suka ketika kita menghadapi hal-hal demikian. Tetapi hal-hal tersebut tidak dapat kita hindari. Seperti keadaan yang dialami oleh seseorang yang buta sejak lahir (Yoh 9). Murid-murid Tuhan Yesus bertanya, Tuhan mengapa ia buta sejak lahir? Apakah ia berbuat dosa? Apakah karena orang tuanya sehingga ia dilahirkan buta? Pernyataan murid-murid Tuhan Yesus (rabi Yahudi) umumnya percaya adanya hubungan sebab akibat antara penderitaan dan dosa. Yesus sendiri pernah berkata bahwa ada kemungkinan penderitaan itu terjadi karena adanya dosa. Seperti dalam Yohanes 5:15 Yesus berkata, “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Tetapi dalam bagian ini tidak ada akibat dari dosa, baik itu dari orangnya sendiri atau orang tuanya. Yesus langsung menjawab, “Hal ini terjadi supaya pekerjaan Tuhan nyata dalam hidup orang ini.” Selain itu, Tuhan Yesus juga ingin menyampaikan bahwa waktu kita di dunia ini adalah singkat.
Mujizat yang dilakukan adalah inisiatif Tuhan Yesus sendiri. Tidak ada permintaan dari si buta ataupun adanya percakapan sebelumnya. Tuhan Yesus menyembuhkan si buta dengan ludahan Yesus yang dicampur dengan tanah lalu dioleskan pada matanya. Hal ini sangat menarik, bapak ibu. Penyakit yang ada dalam tubuh orang tersebut bukan karena pengaruh dosa demikian juga tentang penyembuhan itu merupakan inisiatif Tuhan Yesus sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan ingin pekerjaanNya nyata dalam diri orang tersebut. Sungguh bersyukur jika sesuatu hal terjadi; memang tidak enak, sulit, sakit. Tetapi Bapak Ibu hal itu tidak kebetulan tetapi oleh karena inisiatif Tuhan dan Tuhan ingin agar NamaNya dimuliakan melalui kita.

Ls. Cynthia