September 19, 2021

GKT Hosana

Berakar, Bertumbuh, Berbuah.

You’ll Never Walk Alone

Kisah Para Rasul 12:6-17

Bagi penggemar sepak bola, slogan “You’ll Never Walk Alone” tentu tidak asing didengar. Slogan ini adalah judul dari lagu penyemangat yang sering dinyanyikan oleh para pendukung tim sepak bola Liverpool ketika tim tersebut sedang bertanding. Bagi para pendukung tim Liverpool, slogan “You’ll Never Walk Alone” merupakan ungkapan para fans Liverpool untuk tetap setia mendukung tim tersebut apapun hasil dari pertandingan yang diraih.


Kita bisa melihat bahwa dukungan yang besar dan setia terhadap saudara-saudara kita yang sedang berjuang, dapat menolong mereka untuk hidup berdampak bagi dunia. Terlebih sebagai orang Kristen, kita perlu mendukung saudara seiman dalam usaha untuk terus menjadi garam dan terang yang mewujudnyatakan Kerajaan Allah di dunia ini.
Hidup yang penuh tantangan dan permasalahan memang cenderung membawa kepada sikap yang mementingkan diri sendiri. Itu semua karena setiap orang pasti memiliki permasalahan yang harus diselesaikan masing-masing. Dan ekstrimnya adalah kita menjadi orang yang hanya berfokus pada masalah kita sendiri, tanpa mempedulikan apa yang terjadi terhadap orang-orang disekitar kita. Singkatnya, kita cenderung berpikir bahwa “I am walk alone”.

Namun, apakah kita benar-benar berjalan sendirian di tengah hidup yang penuh permasalahan ini?
Dalam narasi di dalam Kisah Para Rasul 12:6-17, kita dapat melihat bahwa di dalam perjalanan hidupnya, Petrus memiliki Allah dan komunitas Kristen yang dibangunnya untuk mendukung pelayanan demi Kerajaan Allah. Dia harus menghadapi Herodes sebagai penguasa yang ditempatkan pemerintah Roma untuk mengatur wilayah Yerusalem.
Herodes tahu bahwa dengan menindas dan menganiaya orang Kristen, maka dia dapat mengambil hati masyarakat Yahudi dan mempermudah dirinya untuk memerintah di Yerusalem. Sehingga dia memburu para pengikut Kristus dan terkhusus para rasul sebagai pemimpin kekristenan masa itu.

Pada ayat 6-11, sekalipun Petrus dibelenggu dan dijaga oleh para prajurit namun ia tetap dapat keluar dari tempat dia ditahan itu. Penyertaan Allah lewat malaikat yang dikirim-Nya merupakan keajaiban yang melampaui pemikiran Petrus sehingga ia mengira bahwa itu adalah sebuah penglihatan. Namun ketika dia sudah berada di luar tahanan, Petrus menyadari bahwa semua itu adalah tindakan nyata Allah baginya. Sehingga harapan orang Yahudi sebagai penganiaya orang Kristen pada saat itu, tidak terwujud.
Lalu pada ayat 12-17, Petrus melarikan diri ke tempat komunitasnya berada. Di situ orang-orang Kristen sedang berdoa untuk kebebasan Petrus dari tempat dia ditahan. Mereka berdoa dengan sungguh karena mereka peduli dan mengasihi Petrus. Jika melihat kondisi pada saat itu, tentu saja diri mereka juga terancam. Namun itu tidak mengurangi kepedulian mereka untuk terus mendoakan Petrus bersama-sama.
Tidak ada yang dapat dilakukan oleh jemaat pada saat itu untuk menolong Petrus selain berdoa.

Namun, kita bisa melihat ada suatu ikatan yang indah antara Petrus dan komunitas Kristen pada saat itu. Mereka saling merindukan satu sama lain untuk dapat kembali bersekutu bersama di dalam Allah. Di dalam narasi ini, doa merupakan bentuk kehadiran mereka ketika Petrus sedang berada di masa yang sulit.
Dalam kisah ini, kita dapat melihat bahwa ternyata sebagai anak Tuhan, kita tidak benar-benar sendirian. Selalu ada penyertaan Tuhan untuk setiap kita yang percaya dan berserah kepada-Nya dengan cara- Nya yang terkadang tidak bisa kita pahami. Selain itu di dalam suatu komunitas tubuh Kristus ada penyertaan yang bisa kita lakukan untuk saudara-saudara seiman lainnya lewat doa dan dukungan yang bisa kita berikan. Sehingga sejatinya, sebagai umat-Nya kita tidak pernah berjalan sendirian.
Melalui perenungan ini, kita dapat menyadari bahwa di dalam perjalanan kehidupan yang kita jalani saat ini,

kita membutuhkan perjalanan bersama dengan Allah dan perjalanan bersama komunitas Kristen di tengah dunia. Sehingga kita tidak akan merasa berjalan sendirian di dalam hidup yang penuh dengan permasalahan ini. Dan kita dapat menjadi dampak yang mewujudnyatakan kasih Allah di dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Oleh Stephanie Esmeralda L