September 28, 2021

GKT Hosana

Berakar, Bertumbuh, Berbuah.

Allah Tritunggal

Pendahuluan

      Keberadaan Allah Tritunggal sering kali menjadi permasalahan yang begitu rumit untuk diselesaikan di dalam Kekristenan. Di dalam kubu Kekristenanpun sering kali terjadi kesalahan dalam memahami konsep Allah Tritunggal ini, sehingga tidak heran muncul ajaran-ajaran yang menyesatkan dalam Kekristenan. Seperti Gnostisisme yang menekankan perkerjaan Allah yang inferior dan menolak natur kemanusian dari Kristus, Marsionisme juga membedakan Allah dalam Perjanjian Lama dan Allah dalam Perjanjian Baru yang dinyatakan dalam Kristus Yesus, Montanisme juga salah dalam memahami konsep Allah Roh Kudus, dengan menyamakan pemimpin mereka setara dengan Allah Roh Kudus dan menekankan Allah Roh Kudus lebih dari Allah Bapa dan Allah Putra. Morkianisme Modalistik juga menyatakan Allah adalah satu, bukannya tiga pribadi, melainkan Allah memperkenalkan Diri-Nya dalam berbagai aspek dari berbagai jaman, Bapa dalam penciptaan, Allah Putra dalam penebusan dan Allah Roh Kudus dalam pengudusan. Monarkianisme Dinamik menyatakan bahwa Yesus hanya seorang manusia biasa. Nestorianisme berpandangan bahwa Yesus bukan Allah, melainkan sebagai wadah Logos Ilahi dan Saksi Yehowah menolak ke Ilahian Yesus[1].

      Inilah ajaran-ajaran yang muncul dalam Kekristen, karena pemahaman Allah Tritunggal yang keliru, bukan hanya dalam Kekristenan saja yang mempermasalahkan berkenaan dengan Allah Tritunggal. Kubu non Kristen pun mempermasalahkan Allah Tritunggal, mereka menganggap Kekristenan menyembah tiga Allah, dan tidak menyembah Allah yang monotheisme.

      Secara filosofis kita dapat menjelaskan mengenai Allah Tritunggal, berawal dari manusia yang adalah ciptaan Allah. Keberadaan rasional, moral, dan perasaan dalam diri manusia menunjukkan bahwa manusia merupakan suatu pribadi dan jika dikatakan pribadi maka membutuhkan suatu interaksi dengan pribadi lainnya. Karena pribadi membutuhkan suatu interaksi di dalam dirinya. Manusia adalah suatu wujud nyata dari gambaran diri Allah, namun gambaran itu tidaklah sesempurna seperti Allah sepenuhnya. Allah merupakan pribadi yang sempurna, karena Allah tidak memerlukan pribadi lainnya (selain Diri-Nya) untuk berinteraksi seperti manusia. Karena Allah tri-personal dan manusia uni-personal, sehingga Allah dapat memenuhi kebutuhan-Nya sendiri sebagai pribadi. Karena pribadi Allah saling berinteraksi, satu dengan yang lainnya dan saling mengasihi satu dengan yang lain-Nya dari kekal sampai kekalan.[2]  

      Allah itu esa, esa ini bukan berarti tunggal sesuai hitungan matematika. Keesaan Allah adalah Tiga Pribadi/subsistensi (who/person), yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang adalah satu substansi (what/being) Allah. Allah Bapa bukan berasal dari apa pun, juga bukan diperanakkan oleh siapa pun, juga bukan keluar dari apa pun; Allah Putra diperanakkan dari Allah Bapa sejak kekekalan; Allah Roh Kudus keluar dari Allah Bapa dan Allah Putra sejak kekekalan. Dengan kata lain Allah yang esa ini merupakan interaksi dalam tiga Pribadi yang berbeda. Setiap Pribadi adalah sepenuhnya Allah, bukan hanya sebagian saja, dan bahwa tiga Pribadi yang setara ini memiliki perbedaan antara satu Pribadi dan Pribadi lain, namun tidak bertentangan.[3] Esa yang melekat pada Allah ini bukan berarti tunggal melainkan unity (subtance) in diversity (subsistence). Untuk dapat memahami “esa” ini, kita dapat membandingkan dengan moto negara Indonesia agar dapat memahami dengan lebih baik, yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Bagaimana dapat dikatakan berbeda-beda namun tetap satu, kita mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara yang beragam budaya, sehingga seharusnya memiliki perbedaan-perbedaan yang sukar untuk dapat disatukan. Namun moto “Bhineka Tunggal Ika” menjelaskan bahwa di tengah beragaman budaya ini, kita tetap satu, yaitu Indonesia. Demikian juga dengan kata “esa”, jangan kita melihat itu merupakan satu hitungan matematika.

      Harus Hadiwijono memaparkan pemahaman Tertullianus berkenaan dengan Tritunggal. Tertullianus menggunakan istilah substansi dan persona atau pribadi untuk menjelaskan Tritunggal. Tuhan Allah adalah satu di dalam substansiNya dan tiga di dalam persona-Nya atau pribadi-Nya atau oknum-Nya. Penjelasan Tertullianus berkenaan dengan Tritunggal yang dipaparkan oleh Harun Hadiwijono:

“Tuhan Allah memiliki pada diri-Nya akal atau budi. Budi ini dilahirkan atau dikeluarkan di dalam Firman atau Logos-Nya pada waktu penjadian alam semesta. Jadi Firman atau Logos itu keluar atau dilahirkan dari budi, seperti batang pohon keluar daripada akarnya, atau seperti sungai keluar daripada sumbernya, atau sebagai sinar keluar daripada matahari. Oleh karena itu maka Firman atau Logos tadi disebut Anak. Mula-mula Roh Kudus adalah satu dengan Firman, tidak terpisahkan daripada Firman atau Logos, juga pada waktu Logos atau Firman ditinggikan, Roh itu keluar daripada Bapa dan Anak. Keluarnya Roh Kudus daripada Anak sama dengan keluarnya buah dari pada batang pohonnya, atau seperti arus keluar daripada sungai, atau seperti berkas sinar keluar daripada sinar. Jadi hubungan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus digambarkan seperti hubungan: akar-batang-buah, sumber-sungai-arus, dan matahari-sinar-berkas sinar. Bapa, Anak dan Roh Kudus memiliki satu substansi, sedang mereka adalah tiga persona atau pribadi atau oknum”[4]

Argumen Kitab Suci Mengenai Keberadaan Allah Tritunggal

  1. Perjanjian Lama

      Kejamakan dalam Diri Allah tidak hanya dalam Perjanjian Baru saja, melainkan dalam Perjanjian Lama pun, kita dapat melihat bagaimana kejamakan dalam Diri Allah. Kejadian 1:26 “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita”, dalam Kejadian 11:7 juga “Baiklah Kita turun dan mengacau balaukan di sana bahasa mereka. Yesaya 6:8 juga memaparkan “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk aku (dalam terjemahan KJV memakai kata Kami) Also I heard the voice of the Lord, saying, Whom shall I send, and who will go for us? Then said I, Here am I; send me.” Dari beberapa ayat ini James Boice menjelaskan bahwa Allah yang sejati dan yang hidup eksis dalam tiga Pribadi: Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus itu sudah nampak dari Perjanjian Lama. Perjanjian Lama terlihat indikasi-indikasi Tritunggal di dalamnya, sehingga Tritunggal bukanlah sesuatu yang asing dan hanya dicatat, dijelaskan di dalam Perjanjian Baru saja.[5]

     Robert Letham juga menjelaskan kehadiran Allah Tritunggal dalam Kejadian 1:26-27, dengn mengatakan:

“Manusia eksis sebagai dualitas, yang satu dalam relasi dengan yang lain….Mengenai Allah sendiri….konteksnya menunjuk kepada rasionalitas instrinsik yang dimiliki-Nya sendiri. Bentuk jamak muncul dalam tiga kesempatan di ayat 26, namun juga tunggal di ayat 27. Allah ditempatkan sejajar dengan manusia, yang dibuat menurut gambar-Nya sebagai laki-laki dan perempuan, yang digambarkan baik dalam bentuk tunggal maupun jamak. Di balik itu semua terdapat distingsi Allah/Roh Allah/ ucapan atau Firman Allah di ayat 1-3…. Relationalitas ini dalam perkembangan penyataan Alkitab nantinya akan disibakkan dalam bentuk ketritunggalan”[6]

  1. Perjanjian Baru

      Perjanjian Baru menjelaskan bagaimana suatu relasi ketiga Pribadi Allah saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Secara lebih khusus pada saat inkarnasi Sang Anak dan pencurahan Roh, yang adalah satu-satunya Allah sejati. Allah sejati ini menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh. Bapa yang menyandang nama ini terutama dalam relasi dengan Anak dan anak-anak-Nya adalah sama dengan Dia yang dapat disebut Bapa, dan juga sama dengan Pencipta segala sesuatu (Mat. 7:11; Luk. 3:38; Yih. 4:21; Kis. 17:28; 1 Kor. 8:6; Ibr. 12:9). Segala sesuatu menderivasi eksistensi mereka dari Dia (1 Kor. 8:6). Anak menyandang nama khusus ini karena relasi-Nya yang sangat unik dengan Allah, adalah identik dengan logos, yang melalui Bapa menciptakan segala sesuatu (Yoh. 1:3; 1 Kor. 8:6; Kol. 1:15-17; Ibr. 1:3). Roh Kudus yang menerima namaNya khususnya dikarena pekerjaan-Nya di dalam gereja, adalah Roh yang sama yang bersama dengan Bapa dan Anak memerintah dan saling memperlengkapi, memperindah segala sesuatu ciptaan-Nya (Mat. 1:18; Mrk. 1:12; Luk. 1:35). [7]

     Peter Toon dan James D. Spiceland menjelaskan kesatuan dari Allah Tritunggal dalam Perjanjian Baru, antara Bapa, Putra dan Roh Kudus merupakan satu kesatuan Allah yang esa dalam Perjanjian Lama, dengan mengungkapkan :

“Thus it appears that ini New Teastament there are clear element for a doctrine of the Trinity, there is a commitment to the unity of Gods as in the Old Testament”[8]

      Dari hal ini kita dapat melihat bahwa doktrin Allah Tritunggal secara eksplisit dinyatakan dalam Perjanjian Lama diperjelas di dalam Perjanjian Baru. Keberadaan Allah Tritunggal diungkapkan dalam seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Kesimpulan

      Keberadaan Allah Tritunggal sulit untuk dipahami, karena Alkitab tidak menyebutkan Allah dengan sebutan Tritunggal, namun kita dapat melihat dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru menjelaskan indikasi-indikasi Tritunggal. Bukan hanya secara Alkitabiah saja dapat menjelaskan keberadaan Allah Tritunggal, secara filosofis juga dapat menjelaskan keberadaan Allah Tritunggal. Keberadaan Allah Tritunggal nyata, bukan suatu karangan dari kaum-kaum Kristen tertentu, karena argumen teologis secara Alkitabiah dapat membuktikan keberadaan Allah Tritunggal (baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), dan secara rasional dapat membuktikan keberadaan Allah Tritunggal, kita dapat melihat bahwa Allah Tritungal itu benar-benar ada, sehingga kita tidak perlu meragukan lagi keberadaan Allah Tritunggal, walaupun sering kali kita terbatas untuk dapat memahami Allah Tritunggal dengan sempurna, karena kita adalah ciptaan yang sulit untuk dapat memahami kesempurnaan dari Sang Pencipta. Pendapat para bidah yang menolak keberadaan Allah Tritunggal dapat dibantah dengan argumen Biblika dan filosofis, bahwa Allah Tritunggal itu benar-benar ada, bukan hanya sekedar pendapat seseorang saja, melainkan suatu kebenaran yang mutlak.

Ev. Andry Ligawan


[1] Iskandar Santoso, Diktat Kuliah Bidah, (Lawang: STT Aletheia, 2013)

[2] Louis Berkhof, Teologi Sistematika I:  Doktrin Allah, (Surabaya: Momentum, 2010), hal. 145-147.

[3] G.I. Williamson, Pengakuan Iman Westminster, (Surabaya: Momentum, 2009) , hal. 40-41.

[4] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal. 108.

[5] James Montgomery Boice, Dasar-dasar Iman Kristen, (Surabaya: Momentum, 2011), hal. 116.

[6] Robert Letham, Allah Tritunggal: Dalam Alkitab, Sejarah, Theologi, dan Penyembahan, (Surabaya: Momentum, 2011), hal. 21.

[7] Herman Bavinck, Dogmatika Reformed Jilid 2: Allah dan Penciptaan, (Surabaya: Momentum, 2012), hal. 335-336.

[8] Peter Toon & James D. Spiceland, One God In Trinity, (Westchester, Illinois: Cornerstone Books, 1980), pp. 22-23.