Ringkasan Khotbah 10 Mei 2020

Manusia Sebagai Ciptaan Tuhan yang Mulia

Kejadian 1:26-27, Yesaya 43:7


Manusia sebagai ciptaan yang termulia karena diciptakan sesuai dengan
gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26-27).

Apakah yang dimaksudkan dengan gambar dan rupa Allah? Apakah [gambar] Allah berbeda dari [rupa] Allah dan dengan demikian ada 2 hal yang berbeda di sini? Ataukah 2 kata ini menunjuk kepada satu hal saja? Alkitab memperlihatkan bahwa kedua kata ini dipakai secara sinonim dan saling bergantian dalam berbagai konteks.

Misalnya, dalam Kejadian 1:26, kedua kata ini muncul bersama-sama (Gambar dan Rupa) dan dalam Kejadian 1:27,

hanya kata gambar yang muncul. Kedua kata ini [gambar dan rupa] menunjuk pada hal yang sama.

Jadi, kita tidak perlu membeda-bedakan kedua kata ini. Kembali ke tema di atas, manusia sebagai ciptaan yang mulia.
Ada pertanyaan yang penting untuk kita renungkan dari tema ini yaitu mengapa Allah menciptakan kita sebagai ciptaan yang mulia?

Paling tidak ada 2 alasan mengapa Allah menciptakan kita.


Pertama, Allah Ingin Kita Memuliakan-Nya
Dalam Yesaya 43:7Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku
yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku
”. Dari ayat ini memberitahukan kepada kita tentang tujuan penciptaan Allah yaitu memuliakan Allah.

Pertanyaannya, apakah Allah kurang mulia? apakah Allah kurang sempurna? Sehingga membutuhkan manusia menambah kemuliaan Tuhan? Tentunya tidak!

Tony Evans berkata: “Anda tidak bisa memberikan sesuatu yang dapat mempertinggi tingkatan Allah, atau mengambil sesuatu dari-Nya yang dapat mengurangi tingkatan-Nya. Allah memang demikian karena Ia sepenuhnya Allah”.

Allah kita adalah Allah yang sempurna, mahamulia. Penciptaan manusia
oleh Allah bukan untuk memperoleh kemuliaan,

melainkan untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Lalu bagaimana caranya agar kemuliaan Allah dapat
dinyatakan? Kemuliaan Allah dapat dinyatakan dalam hidup kita, melalui:

A. Merefleksikan atau Mencerminkan Allah
Manusia sebagai ciptaan yang mulia menurut gambar Allah.

Menurut FuXie & Jarot: “Manusia memiliki sifat-sifat, karakter, temperamen dari Allah
yang tidak kelihatan, manusia memwakili Allah di bumi… manusia memiliki roh, sehingga manusia dapat bersekutu dengan Allah
”.

Kemudian menurut Knox Chamblin: “Manusia adalah refleksi dari natur Allah. Maksudnya adalah sebagai ciptaan Allah, dalam diri kita telah diberikan sifat kesucian/moral, sifat kebenaran, sifat berkarya, sifat kasih dan peduli dll.” Sifat –sifat yang dimiliki tersebut adalah refleksi dari natur Allah. Apabila kita bisa menjadi sebagaimana kita seharusnya, maka orang lain akan melihat sesuatu tentang Allah dalam diri kita. Dengan demikian, kita telah hidup merefleksikan/mencerminkan Allah–kemuliaan Allah telah dinyatakan melalui hidup kita.

Apakah hidup kita sudah merefleksikan/mencerminkan Allah?

B. Mengembalikan kemuliaan kepada Allah
Matahari mempunyai cahaya sendiri, tetapi bulan tidak mempunyai
cahaya sendiri. Bulan menerima cahaya dari matahari dan hanya memantulkan 8% dari cahaya matahari yang diterimanya; Matahari adalah sumber cahaya, bulan hanya sebagai reflektor untuk memancarkan kembali cahaya itu kepada benda-benda lain.

Gambaran di atas menolong kita mengerti bahwa Allah itu sumber dari segala sesuatu. Kita sebagai ciptaan Allah yang mulia, dalam diri kita telah diberikan segala sesuatu dari Allah. Kita telah menerima segala sesuatu dari Allah (Sumbernya).

Apakah bakat, suara, karunia, jabatan, kekayaan,
kesehatan dll semuanya berasal dari Tuhan.
Setelah kita mengerti kebenaran ini, seharusnya hidup kita kembali ke
arah yang benar, kepada Sumber-Nya yaitu kembali kepada Allah.

Kita harus mengembalikan kemuliaan kepada Allah, sumber dari segala sesuatu yang kita terima tersebut.

Seperti Paulus katakan: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia,
dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-amanya

(Roma 11:36).

Kedua, Allah Ingin Kita Menjalin Hubungan Pribadi Dengan-Nya
Selain untuk memuliakan Allah, kita juga diciptakan untuk menjalin
hubungan pribadi yang intim dengan Allah.

Allah itu Roh dan kita diciptakan sebagai makhluk rohani, memiliki sifat rohani untuk berkomunikasi dan berelasi dengan Allah.

Robert Davidson berkata: “Manusia diciptakan untuk hidup dalam hubungan pribadi yang mesra dengan Allah“.

Jika kita diciptakan untuk menjalinkan hubungan yang intim dengan
Allah. Apakah kita sudah hidup sesuai dengan tujuan Allah tersebut? Marilah kita menjalin hubungan yang akrab dengan Allah.

Menjalin hubungan atau persekutuan dengan Allah dapat kita lakukan melalui saat teduh/perenungan pribadi, ibadah keluarga/daring dan aktifitas hidup kita sehari-hari bersama Tuhan.

Allah ingin kita memuliakan-Nya dan menjalin hubungan pribadi
dengan-Nya. Itulah tujuan Allah menciptakan kita. Sudahkah kita hidup sesuai dengan tujuan penciptaan-Nya sebagai ciptaan yang mulia menurut gambar dan rupa-Nya? Kiranya kita dapat menjalani hidup ini sesuai dengan tujuan penciptaan Allah.

Tuhan memberkati kita.

Amin!