Month: September 2017

Segala Sesuatu Ada Masanya

Segala Sesuatu Ada Masanya Anda mungkin pernah kesulitan untuk menolak tanggung jawab baru yang ditawarkan kepada Anda, terutama jika hal itu bertujuan baik dan langsung memberi manfaat kepada orang lain. Kita mungkin memiliki alasan kuat untuk memilih-milih pekerjaan mana yang kita prioritaskan. Namun terkadang, setelah menolak untuk terlibat lebih jauh, kita bisa jadi merasa bersalah atau berpikir bahwa kita telah undur dalam perjalanan iman kita. Namun menurut Pengkhotbah 3:1-8, berhikmat berarti menyadari bahwa segala sesuatu di hidup ini memiliki masanya sendiri, baik dalam aktivitas manusia maupun di alam. “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (3:1). Mungkin Anda akan menikah atau sedang menantikan anak Anda yang pertama. Mungkin Anda baru lulus sekolah dan memasuki dunia kerja, atau baru saja pensiun dari suatu pekerjaan penuh waktu. Dalam perpindahan dari satu masa ke masa berikutnya, prioritas kita pun berubah. Kita mungkin perlu mengesampingkan apa yang pernah kita lakukan di masa lalu dan menyalurkan energi kita untuk hal-hal lain. Ketika hidup membawa perubahan dalam keadaan dan kewajiban kita, kita harus secara bertanggung jawab dan bijaksana membedakan komitmen apa saja yang akan kita ambil, dengan berusaha dalam apa pun yang kita lakukan untuk melakukan “semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31). Amsal 3:6 menjanjikan bahwa ketika kita mengakui Dia dalam segala sesuatu yang kita lakukan, Dia akan membimbing kita ke jalan yang harus kita tempuh. Bapa Surgawi, beriku...

Read More

Muda yang Berkarya

Muda yang Berkarya Daniel 1 Bagaimana orang muda bisa berkarya dalam keadaaan apapun dan dimana saja? Mengakui kedaulatan Tuhan Di pasal 1 kata “Tuhan/Allah” muncul sebanyak 3 kali. ayat 2: “Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda,…”;  ayat 9: ”Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang…”;  ayat 17: “kepada keempat  orang muda itu Allah memberikan pengetahuan…” Orang yang mengakui kedaulatan Tuhan memandang semua yang terjadi dalam hidup ini adalah atas seiijin Tuhan, otoritas Tuhan yang menyebabkan semuanya terjadi, sehingga pada waktu menghadapi masalah, bahaya atau kondisi yang  tidak menyenangkan, dia tidak akan menyalahkan manusia, tidak menyalahkan lingkungan, tetapi tetap tunduk pada otoritas Tuhan dengan tegar menjalani hidup ini.  Otoritas Tuhan yang adalah Pencipta, Penopang hidup manusia tidak pernah akan mencelakakan manusia, apalagi jika kita adalah anak-anak-Nya. (Yeremia 29:11) Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan  apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan  yang penuh harapan. (Roma 8:28) Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Apa yang sedang terjadi dalam hidup ini, yang membuat Saudara tidak bersemangat menjalani hidup? Mengejar Hidup Kudus Di ayat 8 “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pegawai istana itu, supaya ia tak usah...

Read More

SIAPAKAH AKU INI?

SIAPAKAH AKU INI? Bertahun-tahun yang lalu, Billy Graham, seorang penginjil terkemuka di dunia, dijadwalkan berbicara di Universitas Cambridge di Inggris. Namun ia tidak merasa memiliki persyaratan untuk berbicara di depan para cendekiawan. Ia tidak memiliki gelar dan tidak pernah bersekolah di seminari. Billy mengatakan kepada seorang sahabatnya: “Rasanya aku tidak pernah merasa begitu tidak layak dan sama sekali tidak siap untuk sebuah tanggung jawab seperti ini.” Ia berdoa memohon pertolongan Allah, dan Allah memakai Billy untuk membagikan kebenaran sederhana dari Injil tentang salib Kristus. Musa juga merasa tak layak ketika Allah memanggilnya untuk berbicara kepada Firaun agar ia membebaskan bangsa Israel. Musa bertanya, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun?” (Kel. 3:11). Meski Musa mungkin meragukan kemampuan dirinya karena ia “tidak pandai bicara” (4:10), Allah berkata, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (3:12). Menyadari bahwa ia harus memaparkan rencana penyelamatan Allah dan berbicara kepada bangsa Israel tentang siapa yang mengutus dirinya, Musa bertanya kepada Allah, “Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Allah menjawab, “Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu” (ay.13-14). Nama Allah, “Akulah Aku,” mengungkapkan sifat-Nya yang kekal, Mahahadir, dan Mahakuasa. Bahkan ketika kita meragukan kemampuan kita untuk mengerjakan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan, Dia dapat dipercaya. Kekurangan kita tidaklah terlalu berarti jika dibandingkan dengan kemahakuasaan Allah. Ketika kita bertanya, “Siapakah aku ini?” kita dapat mengingat bahwa Allah berkata, “Akulah Aku.” Tuhan terkasih, tolong aku untuk...

Read More