TUA BERHIKMAT

Butuh waktu agak lama bagi saya untuk bisa memahami anak-anak saya yang sudah mulai tumbuh dewasa. Waktu mereka masih kecil, mereka selalu menuruti apa yang saya katakan. Kini, sepertinya saya yang harus mulai belajar untuk menerima penolakan karena mereka sudah bisa berdebat. Bahkan pada beberapa kesempatan mereka juga dapat menegur saya jika saya melakukan kesalahan menurut pandangan mereka.

Apa yang dilakukan anak saya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan Elihu. Elihu tidak bisa menerima ketika Ayub menganggap dirinya lebih benar dari Allah dan ketiga sahabatnya yang selalu mempersalahkan Ayub. Sebagai orang yang jauh lebih muda, semula Elihu enggan mengemukakan pendapatnya karena merasa malu dan takut. Wajar jika Elihu berpikir demikian. Namun, roh di dalam manusia dan napas Yang Mahakuasa memperi Elihu pengertian (ay. 8, 9) sehingga ia menegur Ayub dan ketiga sahabatnya. Hasilnya, mereka menundukkan diri dan bertobat. Tuhan memulihkan kembali Ayub dan ketiga sahabatnya.

Menjadi orang yang berusia lanjut kerap dirujuk sebagai teladan dan panutan oleh generasi muda. Anak-anak muda sebagai generasi penerus memerlukan sosok orang tua yang mengerti, menyelami dunia dan pergulatan mereka pada zaman ini. Dengan demikian, para orang tua perlu membangun keterbukaan wawasan dan pemikiran mereka. Sebab, hikmat Tuhanlah yang menentukan kematangan kita.

MAKIN BERTAMBAH USIA, MAKIN BERHIKMAT

DALAM MEMBERI NASIHAT DAN JUGA MENERIMA NASIHAT.

e-RH Situs: http://renunganharian.net