“DEWASA YANG BERHIKMAT”

Amsal 1:1-4  &  Mazmur 90:12

Ada ungkapan yang berbunyi demikian: “Menjadi Tua itu Pasti; Dewasa itu Pilihan”. Menarik sekali kalau kita mencermati ungkapan itu. Benar, kalau dikatakan bahwa manusia dengan berjalannya waktu, akan semakin tua usianya; namun, belum tentu orang yang tua usianya adalah orang yang dewasa. Kalau orang ingin menjadi dewasa, itu adalah pilihan hidupnya dan harus ada usaha yg dilakukannya untuk menjadi dewasa.

Salah satu ciri orang yang dewasa adalah hidupnya penuh dengan hikmat dan kebijaksanaan. Penulis Amsal dan pemazmur pun menganggap penting hidup yg bijaksana. Karena itu dia (pemazmur) minta Tuhan supaya dia dimampukan untuk menghitung hari-hari yang dilaluinya agar dapat memperoleh  hati yang bijaksana.

Menjadi orang yang dewasa dan berhikmat (bijaksana) tidak mudah, dibutuhkan kerendahan hati dihadapan Tuhan karena bijaksana melintasi banyak pengetahuan dan moral dan itu hasil dari perenungan yang mendalam bersama dengan Tuhan.

Mari kita melihat nilai bijaksana itu seperti apa yang dibutuh untuk bisa menjadi anak Tuhan yang dewasa yang berhikmat. Bijaksana atau hikmat adalah pemahaman ekstra yang Tuhan berikan kepada kita. Jadi bijaksana merupakan sebuah pemahaman yang ektra yang diberikan Tuhan kepada anak manusia. Jadi bijaksana selalu mempunyai kaitan dengan sang pencipta. Bijaksana selalu mempunyai kaitan kedekatan kita dengan Allah. Maka sepatutnya kita mempunyai kesadaran bahwa tiap kita memiliki  keterbatasan diri kita membuat kita bijaksana untuk mengerti siapa kita, hidup ini harus seperti apa. Jadi bijaksana merupakan sebuah anugerah Tuhan yang luar biasa,  yang Tuhan berikan bagi kita.

Musa berkata: “Ajari kami menghitung hari-hari kami sedemikian, sehingga kami beroleh hati yang bijaksana”.  Orang sekelas Musa masih meminta bijaksana Tuhan, bagaimana dengan kita?

Mari jalani hidup dengan hikmat Tuhan semata, maka tiap kita akan diberi kesanggupan untuk mencari jalan atas kesulitan-kesulitan dengan putusan-putusan yang bijak, dengan hikmat yang dari Tuhan.

Oleh : Ev. Cuniadi Tan