Day: September 3, 2017

KECIL TAPI BERARTI

KECIL TAPI BERARTI  Amsal 30:24-28 Pernahkah kita merasa diri kita kecil? Mungkin dalam arti ukuran fisik kita yang tidak tinggi atau lebih pendek dari ukuran tinggi orang-orang biasa atau mungkin dalam arti merasa diri tidak berarti, tidak memiliki kemampuan apa-apa, tidak pintar dibandingkan dengan orang lain. Atau penilaian dan anggapan orang lain yang cenderung mengecil-kecilkan kita karena kekurangan-kekurangan kita sehingga k timbul kecewa dan minder karena merasakan hal-hal kekurangan kita. Pada akhirnya kita merasa tidak nyaman dengan diri kita, bahkan  tidak bersyukur lagi kepada Tuhan dengan keberadaan kita dan atas segala kebaikan-Nya kepada kita. Hari ini, Firman Tuhan dalam Amsal 30:24-28, melalui 4 binatang kecil dan lemah,  Tuhan  mengajarkan kepada kita, bahwa binatang yang kecil, lemah, terbatas pun sangat berarti dalam hidupnya, karena memiliki kepintaran dan hikmat dari Tuhan. Apalagi manusia yang Tuhan ciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah.  Mari kita melihat kebenaran dari ke-4 binatang yang Tuhan ajarkan melalui kitab Amsal 30:24-28, agar kita lebih dapat memahami dan menghayati keberadaan diri kita: Meskipun kita kecil, kita tetap berarti. Pelajaran yang dapat kita pelajari dari ke-4 binatang yang kecil, lemah dan terbatas: Semut: Ia rajin bekerja untuk mempersiapkan kebutuhan masa depan; Ia memiliki tujuan hidup yang jelas dan pasti yaitu mencari dan mencukupi kebutuhan hidupnya;  Ia tidak mementingkan diri, melainkan mementingkan kepentingan rekan lain juga. Pelanduk: Meski kecil dan lemah, hidup mengalami banyak kesulitan dan bahaya, namun ia...

Read More

HAL-HAL KECIL

HAL-HAL KECIL Teman saya Gloria menelepon dengan suara yang penuh kegembiraan. Selama ini ia tidak pernah dapat keluar rumah kecuali untuk bertemu dokter. Jadi saya mengerti mengapa ia sangat bersukacita saat menceritakan bahwa putranya baru saja memasang perangkat pengeras suara di komputernya. Sekarang ia dapat mendengar dan menyaksikan siaran langsung dari kebaktian yang berlangsung di gerejanya. Ia sangat mensyukuri kebaikan Allah dan “hadiah terbaik yang kuterima dari putraku!” Gloria mengajari saya tentang memiliki hati yang bersyukur. Walaupun ia memiliki banyak keterbatasan, ia bersyukur untuk hal-hal kecil—matahari terbenam, keluarga dan tetangganya yang suka menolong, waktu teduhnya bersama Allah, kesempatan untuk dapat tetap tinggal di apartemennya. Ia telah melihat pemeliharaan Allah di sepanjang hidupnya, dan kini ia menceritakan tentang Allah kepada siapa saja yang mengunjungi atau meneleponnya. Kita tidak tahu kesulitan apa yang dihadapi penulis Mazmur 116. Beberapa tafsiran Alkitab mengatakan bahwa mungkin karena penyakit yang dideritanya ia berkata, “Tali-tali maut telah meliliti aku” (ay.3). Namun, pemazmur mengucap syukur kepada Tuhan karena kebaikan dan belas kasih-Nya pada saat ia “sudah lemah” (ay.5-6). Ketika kita merasa lemah, sangat sulit bagi kita untuk memandang ke atas. Namun, bila kita memandang ke atas, kita akan melihat bahwa Allah adalah Pemberi dari setiap hal yang baik dalam hidup kita—besar dan kecil—dan kita pun belajar untuk mengucap syukur kepada-Nya. Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikan-Nya kepadaku? . . . Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu....

Read More