Mewariskan Nilai Kemerdekaan

Pendahuluan

Insiden terkini dalam dunia internasional yaitu kasus bendera terbalik, membuat bangsa Indonesia terluka, tersinggung dan marah. Kita marah karena merah putih adalah symbol Negara hasil dari perjuangan darah yang tidak murah. Meski dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke 3, kita menghayati bahwa kemerdekaan merupakan rahmat Tuhan, tapi tetap ada pengorbanan yang tercurah untuk meraihnya.

Namun insiden ini adalah momen tepat untuk kita kembali merenung, akankah kita juga marah jika kita melihat banyak rakyat Indonesia tidak menghargai kemerdekaan ini?

Mewariskan Nilai Kemerdekaan: Mengamalkan Sila Pancasila

Bagaimana kita bias menghargai kemerdekaan ini? Secara sederhana kita menjawab yaitu dengan mengamalkan sila Pancasila sebagai dasar Negara kita.

  1. Mengamalkan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (kebaktian 07.00; 09.00)

Sila ini sangat singkron dengan prinsip kasih dan kepedulian. Bahkan perwujudan dari asas kemanusiaan yang tertinggi adalah kasih, seperti tertulis dalam Matius 22:39 “ Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Tanpa kasih maka perbuatan baik kepada sesama hanyalah kegiatan rasa dan makna. Karena kasihlah maka sebuah tindakan itu menjadi penting dan berarti. Jadi kemanusiaan tanpa kasih hanyalah kesia-siaan. Seorang besar pernah berkata, sine amor, nihil est vita, artinya tanpa kasihNya, hidup ini tidak ada artinya.

Sebagai warga negara kerajaan  Allah dan juga warga negara Indonesia, marilah kita melakukan peran dalam kepedulian kita terhadap kemanusiaan dengan dasar kasih. Apalagi kita telah mengalami kasih sejati dari Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menyelamatkan kita.

  1. Mengamalkan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (kebaktian 16.00)

Sila ini sinkron dengan prinsip keadilan dan kebenaran yang tertulis dalam Roma 14:17 “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”. Ayat ini mengingatkan kita bahwa keadilan yang terutama bukanlah soal pemerataan kebutuhan fisikal, tapi pembangunan secara menyeluruh dan utuh manusia untuk berpartisipasi dalam mewujudkan keadilan. Artinya kita perlu menjadikan tiap orang dalam bangsa ini sebagai subyek bukan obyek. Obyek adalah pribadi yang menunggu untuk menerima keadilan tapi subyek adalah pribadi yang aktif untuk mewujudkan keadilan. Jadi Rasul Paulus sebenarnya ingin membangun mental kita sebagai orang percaya bahwa kita perlu aktif dalam menghadirkan kerajaan  Allah, bukan menunggu dan pasif.

Orang Kristen Sebagai Pelopor

Tuhan menempatkan kita di Negara ini bukanlah kebetulan. Pastilah ada rencanaNya yang khusus melalui kita agar kita menyatakan kehadiranNya yang utuh bagi bangsa ini. Imannuel

Oleh : Pdt. Sandi Nugroho