Month: August 2017

Mewariskan Nilai Kemerdekaan

Mewariskan Nilai Kemerdekaan Pendahuluan Insiden terkini dalam dunia internasional yaitu kasus bendera terbalik, membuat bangsa Indonesia terluka, tersinggung dan marah. Kita marah karena merah putih adalah symbol Negara hasil dari perjuangan darah yang tidak murah. Meski dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke 3, kita menghayati bahwa kemerdekaan merupakan rahmat Tuhan, tapi tetap ada pengorbanan yang tercurah untuk meraihnya. Namun insiden ini adalah momen tepat untuk kita kembali merenung, akankah kita juga marah jika kita melihat banyak rakyat Indonesia tidak menghargai kemerdekaan ini? Mewariskan Nilai Kemerdekaan: Mengamalkan Sila Pancasila Bagaimana kita bias menghargai kemerdekaan ini? Secara sederhana kita menjawab yaitu dengan mengamalkan sila Pancasila sebagai dasar Negara kita. Mengamalkan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (kebaktian 07.00; 09.00) Sila ini sangat singkron dengan prinsip kasih dan kepedulian. Bahkan perwujudan dari asas kemanusiaan yang tertinggi adalah kasih, seperti tertulis dalam Matius 22:39 “ Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Tanpa kasih maka perbuatan baik kepada sesama hanyalah kegiatan rasa dan makna. Karena kasihlah maka sebuah tindakan itu menjadi penting dan berarti. Jadi kemanusiaan tanpa kasih hanyalah kesia-siaan. Seorang besar pernah berkata, sine amor, nihil est vita, artinya tanpa kasihNya, hidup ini tidak ada artinya. Sebagai warga negara kerajaan  Allah dan juga warga negara Indonesia, marilah kita melakukan peran dalam kepedulian kita terhadap kemanusiaan dengan dasar kasih. Apalagi kita telah mengalami kasih sejati dari...

Read More

MENDEKAT PADA ANUGERAH-NYA

MENDEKAT PADA ANUGERAH-NYA Para ahli Taurat dan orang Farisi menyeret seorang wanita yang kedapatan berbuat zina ke hadapan Yesus. Namun mereka tidak tahu bahwa mereka justru membawa wanita tersebut mendekat pada anugerah. Yang mereka mau adalah menjelek-jelekkan Yesus. Jika Dia meminta mereka untuk membiarkan wanita itu pergi, mereka dapat mendakwa-Nya sebagai pelanggar hukum Musa. Namun jika Dia menghukum mati wanita itu, orang-orang yang mengikut Dia akan mengabaikan perkataan-Nya tentang belas kasihan dan anugerah Allah. Namun Yesus membalikkan keadaan dan menantang para penuduh itu. Kitab Suci mengatakan bahwa bukannya menjawab mereka secara langsung, Yesus justru menulis sesuatu di atas tanah. Ketika para pemuka agama itu terus mencecar-Nya, Dia mengundang siapa pun di antara mereka yang tidak pernah berbuat dosa untuk terlebih dahulu melemparkan batu ke arah wanita itu, lalu Dia mulai menulis lagi di atas tanah. Kali berikutnya Dia mendongakkan kepala, semua penuduh itu telah pergi. Sekarang satu-satunya pribadi yang dapat melemparkan batu—satu-satunya yang tanpa dosa—memandang wanita itu dan memberinya pengampunan. “Akupun tidak menghukum engkau,” kata Yesus, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh. 8:11). Mungkin hari ini Anda membutuhkan pengampunan karena sikap Anda yang suka menghakimi, atau Anda ingin mendapatkan kepastian bahwa tak ada dosa yang berada di luar jangkauan anugerah-Nya. Yakinlah akan hal ini: Tak seorang pun dapat menuduh Anda; pergilah dan berubahlah oleh belas kasihan Allah. Bapa, sucikanku dari kebiasaan menghakimi dan lepaskanku dari...

Read More

MERDEKA YANG BERTANGGUNG JAWAB

MERDEKA YANG BERTANGGUNG JAWAB Ulangan 5:12-15 Beberapa hari yang lalu kita baru saja memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 tahun. Sebagai warga negara yang baik kita harus menggunakan kemerdekaan itu dengan bertanggung jawab. Ada 3 sikap orang percaya dalam mengisi kemerdekaan yang bertanggung jawab. Mensyukuri kemerdekaaan sebagai anugerah Tuhan (12, 15) Sepuluh perintah Allah diberikan kepada bangsa Israel berada dalam pengembaraan dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian yaitu Kanaan. Jadi bangsa Israel pada saat itu dalam kondisi bebas, merdeka, bangsa yang telah terlepas dari penjajahan. Sabat diperingati untuk mengingat kemerdekaan yang Allah berikan kepada bangsa Israel. Mereka mengalami kelepasan, kemerdekaan, bukan karena kekuatan mereka namun karena karya Tuhan bagi mereka. Sabat menjadi sarana mereka bersyukur  dan berbakti kepada Allah. Menikmati kemerdekaan dalam sikap hidup yang benar (13) Sdr, Sabat telah menjadi gaya hidup Israel baik secara agama maupun sosial dan akhirnya menjadi praktek keagamaan yang membelenggu. Hukum Taurat diberikan bukan untuk membatasi dan membelenggu umat Allah pada ritual-ritual keagamaan, melainkan agar mereka menikmati kemerdekaan dengan sikap hidup yang benar. Memelihara kemerdekaan dengan memberi dampak (14) Sabat itu bukan hanya berkaitan dengan hubungan kita dengan Tuhan namun juga dengan sesama kita, lingkungan hidup kita. Oleh sebab itu kita hars dapat mewujudkan kemerdekaan dengan bertanggung jawab atas diri sendiri maupun kepada Tuhan dengan memperhatikan sesama dan memelihara lingkungan sekitar. Menjadi berkat bagi gereja, masyarakat dan negara. Penutup Negara kita telah mengalami...

Read More