IBADAH YANG SEJATI

IBADAH YANG SEJATI

 Lukas 10:38-42; Yohanes 11:32; Yohanes 12:1-3

Suatu ibadah disebut sejati apabila ibadah kita dibenarkan oleh Allah. Ibadah yang sejati berkaitan dengan sikap hati orang percaya yang sungguh-sungguh datang kepada Tuhan. Hari ini kita akan merenungkan tentang unsur-unsur ibadah yang seharusnya dimiliki dan dipraktekkan seseorang percaya agar ibadahnya disebut ibadah yang sejati. Unsur-unsur ibadah yang sejati, paling tidak ada tiga, antara lain:

Pertama: Sungguh-sungguh datang mendengarkan Firman Tuhan.

Dalam bagian Firman Tuhan yang kita baca, bahwa salah satu sikap hati seorang Maria yang dipuji Tuhan, yang terbaik yang telah dipilih oleh Maria adalah dia “…duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya” (Lukas 10:39, 42). Mendengarkan Firman Tuhan sangatlah bermanfaat bagi seseorang karena ia akan diajar, dinyatakan kesalahan, diperbaiki kelakuannya dan dididik dalam kebenaran (bandinkan II Timotius 3:16). Mendengarkan Firman Tuhan juga memahami siapakah Tuhan kita. Dia bukan hanya Allah yang sanggup mencukupi kebutuhan fisik kita, melainkan juga memelihara kebutuhan rohani kita, Dialah sandaran rohani kita, perisai yang kuat, benteng hidup kita. Marilah kita duduk tenang, menanti dan sungguh-sungguh datang mendengarkan Firman Tuhan. Tuhan akan memeliharamu.

Kedua, Serahkan pergumulan dan beban berat kepada Tuhan.

Pernah dicatat dari seorang Maria dalam suatu peristiwa di Betania di mana ia dalam keadaan sedih karena ditinggal oleh saudara laki-lakinya yang meninggal yaitu bernama Lazarus. Dia pernah tersungkur di depan kaki Yesus dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati (Yohanes 11:32). Maria sangat sedih karena ia tidak berdaya atas kematian saudaranya, namun ia tahu bahwa hanya Yesus Tuhan yang mengerti pergumulannya dan ia mengadu atau menyerahkan pergumulannya kepada Tuhan.  Puji Tuhan, Tuhan merasakan, mengerti pergumulan dan beban beratnya, bahkan memberikan jalan keluar dengan menyatakan kehendak-Nya. Sebagai orang yang beribadah kepada Tuhan, mari kita juga menyerahkan pergumulan dan beban berat kepada Tuhan, Tuhan akan memelihara dan memberikan jalan keluar kepada kita.

Ketiga, Datang Kepada Tuhan Apa Adanya Tanpa Sembunyi Kekurangan Kita.

Beberapa saat Yesus disalibkan, Maria menuangkan sebotol minyak wangi yang mahal di kaki-Nya. Kemudian ia menyeka kaki Yesus dengan rambut-Nya – suatu sikap tindakan yang tidak biasa. Dalam budaya Timur Tengah abad pertama, para perempuan terhormat tidak pernah membiarkan rambut mereka terurai di depan umum. Jadi, tindakan Maria dibilang sangat berani. Dia mengorbankan seluruh tabungannya, tetapi ia juga mempertaruhkan reputasinya. Disini kita juga  belajar suatu hal berkaitan dengan ibadah, yaitu seorang yang ibadah, ia harus datang kepada Tuhan dengan apa adanya tanpa perlu menyembunyikan kekurangan kita. Kita datang kita kepada Tuhan juga datang dengan bertopeng kesempurnaan yang pura-pura. Marilah kita yang datang beribadah seharusnya kita membuka diri daripada menutup-nutupi segala kegagalan kita hanya suapaya kita terlihat kuat di mata orang lain.

 

Kiranya, ketiga unsur ibadah di atas dapat kita pahami, kita miliki dan dipraktekkan dalam kehidupan beribadah kita agar ibadah menjadi ibadah yang sejati dan berkenan kepada Tuhan. Tuhan memberkati kita, Amin!

Oleh : Pdt. Yohanes Chai