SIAPAKAH IBUMU & SAUDARAMU ?

Rom. 8:29; Mat. 12:46-50; Mark. 3:35; Luk. 8:19-21

Pendahuluan

Seorang arsitek sebelum melakukan proses pembangunan, ia harus mempunyai bayangan / gambaran utuh (blue print) bangunan seperti apa akan dibangunnya. Dengan demikian bangunan yang dihasilkan pun akan sesuai dengan harapan. Begitu juga dengan Bapa kita di Surga, Ia mempunyai blue print bagi setiap orang yang dipilih-Nya, rancangan  kekal Bapa dalam kehidupan orang-orang percaya, agar mereka menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, supaya Ia Anak-Nya itu menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rom. 8:29). Dua perintah Agung, yakni mengasihi Allah dan mengasihi satu sama lain, berbicara hubungan alkitabiah antara Allah dan manusia, yang merupakan bagian terpenting dari proses menuju serupa dengan Kristus. Yang mana Kristus adalah saudara sulung kita telah mengawali dalam memberi teladan bagi para pengikut-Nya yang juga disebut saudara-saudara-Nya.

Secara literal istilah saudara adalah keluarga yang masih mempunyai hubungan darah, seperti: Kain-Habil, Yakub-Esau, Yusuf –saudara-saudaranya. Namun istilah saudara di sini lebih menyiratkan hubungan kesederajatan “bahwa kita harus mengasihi satu sama lain.” (1Yoh. 3:11-13).

Konsep persaudaraan dalam PL, kesetaraan merupakan ciri utamanya, sinonim untuk anggota-anggota komunitas rohani (Hosea 1:12) “katakanlah kepada saudara-saudaramu laki-laki ‘Ami’ (bangsaku)” suatu kondisi yang membuat semua orang menjadi saudara adalah fakta bahwa adanya satu Allah yang menjadi Bapa dan Pencipta dari semua orang (Maleakhi 2:10).

Konsep persaudaraan dalam PB, Yesus menarik garis perbedaan antara saudara literal dan spiritual. Ia bertanya, “Siapa saudara-saudara-Ku ?…Siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Mat.12:46-50).

Paulus menjelaskan perannya sebagai ibu pada waktu menulis kepada jemaat Galatia: “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nayata di dalam kamu” (Gal. 4:19), juga kepada jemaat di Tesalonika: “Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorangibu mengasuh dan merawat anaknya” (1Tes.2:7).

Santo Fransiskus dari Assisi mengatakan: Kita menjadi ibu (Yesus) bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh” (2SurBerim 53). Dengan demikian sama seperti Maria kita berseru dan berdoa: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; Jadilah padaku meneurut perkataan itu” (Luk.1:38).

Jadi istilah saudara berarti sesuatu yang lebih dari sekedar orang-orang beriman. Istilah ini merupakan penerapan dan paling akrab dalam analogi keluarga Allah.Sebuah gambaran tentang kedekatan, kesamaan dan kesatuan yang ideal yang seharusnya ada di antara sesama orang-orang beriman. Kesetaraan yang disiratkannya adalah penting sebagai anak-anak Allah di hadapan Bapa di Surga; dan yang paling penting dari semuanya adalah persaudaraan yang baik dan menyenangkan sebagai keluarga Allah.

Bagaimana dengan Saudara, apakah telah menunjukkan sebagai keluarga Allah ? Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita untuk memancarkannya. Tuhan Yesus memberkati !

Oleh : Pdt. Adi Sriono