Month: June 2017

PERCAYA SAJA

PERCAYA SAJA Ketika anak-anak kami masih kecil, membawa mereka ke dokter adalah pengalaman yang menarik. Ruang tunggu dokter itu dipenuhi mainan yang bisa mereka mainkan dan majalah anak-anak yang suka saya bacakan untuk mereka. Sampai di situ tidak ada masalah. Namun  begitu  saya  menggendong  mereka masuk ke kamar praktek dokter, segalanya berubah. Keceriaan tiba-tiba berubah menjadi ketakutan, apalagi ketika perawat mendekati mereka dengan jarum suntik. Semakin dekat langkah si perawat, semakin erat mereka memeluk saya. Mereka memeluk saya dengan erat untuk mendapat kelegaan, atau mungkin mereka berharap tidak perlu disuntik, tanpa menyadari bahwa suntikan itu sebenarnya untuk kebaikan mereka sendiri. Terkadang dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa ini, kita silih berganti mengalami masa yang damai dan tenang menjadi masa yang menyakitkan dan penuh pergumulan. Pada saat itulah, kita bertanya, “Bagaimana seharusnya saya menanggapi semua ini?” Kita bisa merasa takut dan bertanya-tanya mengapa Allah membiarkan hal itu menimpa kita. Atau sebaliknya, kita dapat meyakini bahwa di tengah masalah tersebut, Allah sedang melakukan sesuatu yang pada akhirnya adalah untuk kebaikan kita juga, walaupun itu terasa menyakitkan. Kiranya kita juga mengingat perkataan yang ditulis sang pemazmur, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu” (Mzm. 56:4). Seperti anak-anak saya, semakin sulit keadaannya, semakin erat kita harus bergantung kepada-Nya. Percayalah kepada-Nya. Kasih-Nya tidak pernah berkesudahan! Datanglah segera, Tuhan, untuk menolongku. Ajarku untuk mempercayai-Mu di masa-masa sulit. Ingatkan aku akan kehadiran-Mu dan pada kenyataan...

Read More

JANGAN TAKUT, PERCAYALAH!

JANGAN TAKUT, PERCAYALAH! Yakobus 1:2-8 & 12 Pendahuluan       William Edgar dalam bukunya your qustions, God answers menerangkan konsep Filsafat Asia mengenai penderitaan, kesakitan, dan kematian adalah sesuatu yang tidak nyata atau sebuah ilusi. Filsafat Asia memberikan jalan keluar agar seseorang terlepas dari kejahatan, penderitaan, kesakitan ataupun kematian dengan cara “pelepasan diri” (melepas segala ilusi perasaan dan kepribadian). Hal ini menjelaskan bagaimana manusia berusaha melepaskan ataupun menghindari penderitaan, kesakitan bahkan kematian. Jika ditelusuri lebih dalam manusia takut untuk menghadapi penderitaan, kesakitan dan kematian. Segala cara digunakan manusia untuk menghindari hal tersebut, namun menemukan kebuntuan. Penderitaan, kesakitan dan kematian adalah bagian yang nyata dari kehidupan manusia yang diakibatkan oleh dosa. Eksposisi Yakobus 1:2-8 & 12       Menurut seorang ahli Perjanjian Baru, Ayat 2 dan 12 membentuk sebuah inclusion (ide/kata dibagian awalsama dengan ide/kata di bagian akhir) yang menandakan bahwa ayat 2-12 merupakan satu kesatuan pemikiran. Kata “ujian” dan ide “berbahagia” muncul di ayat 2 maupun 12. Dari Yakobus 1:2-12, kita akan belajar beberapa kebenaran, yakni: Ayat 2-4 mengajarkan hal-hal yang menyakitkan seperti penderitaan, kesakitan, bahkan kematian merupakan proses pembentukan kita. Ayat 5-8 mengajarkan Tuhan tidak meninggalkan kita dalam jeritan hidup ini. Ayat 12 mengajarkan bahwa Tuhan akan memberikan mahkota kehidupan kepada mereka yang hidup teguh dalam iman. Kesimpulan Penderitaan, kesakitan bahkan kematian adalah bagian dalam kehidupan manusia yang berdosa. Hal-hal tersebut tidak dapat dihindari, melainkan harus dihadapi dengan cara pandang...

Read More

Tuhan, Saya Merasa Terluka (Pahit)

Tuhan, Saya Merasa Terluka (Pahit) Ibrani 12:15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Dari teks ini kita bisa melihat persoalan terluka (kepahitan) yang dialami seorang Kristen dan apa akibatnya jika tidak menerima pemulihan. Kita harus memahami terlebih dahulu apa penyebab utama dari hati yang terluka; apakah benar karena orang lain, karena situasi atau karena ada sebab lainnya? Kalau kita perhatikan Ibrani 12:15 (Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit…) kita menemukan, bahwa penyebab utama hati yang terluka (kepahitan) adalah kalau kita menjauhi Tuhan; bukan karena orang lain, dan bukan karena situasi. Terlalu banyak orang dan situasi yang bisa membuat kita tidak bisa menerima, tetapi persoalan utama dari terlukanya hati kita bukanlah karena itu, sebab ada Yusuf yang diperlakukan tidak baik oleh saudara-saudaranya hatinya bisa tetap baik; terbukti saat mereka yang pernah jahat terhadapnya meminta bantuan makanan, mereka diterima dan dibantu oleh Yusuf. Bagaimana bisa demikian ? Sebab Yusuf hidupnya dekat dengan Tuhan (baik di rumah Potifar maupun di penjara Yusuf dekat dengan Tuhan). Kalau kita menjauhi Tuhan maka akan ada dampak yang muncul dari hidup kita, yaitu membuat orang lain susah. Perhatikan Ibrani 12:15 (… tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.) Kita akan menyusahkan banyak orang...

Read More

Perumpamaan Biji Sesawi

Perumpamaan Biji Sesawi Biji sesawi disebut sebagai biji yang paling kecil. Namun, ketika tumbuh menjadi tanaman dapat menjadi tempat berlindung burung-burung. Baca : Matius 13:31-32 Ayat  emas “Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” Matius 13:31-32 Pada umumnya, sesuatu yang kecil sering kali diremehkan karena dianggap tak berarti. Melalui perumpamaan Yesus mengenai biji sesawi, mengajarkan kepada kita bahwa sesuatu yang kecil dapat berpengaruh besar, asalkan mau berfungsi sebagaimana mestinya. Mungkin kita merasa kecil ketika membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sebab kita merasa tidak memiliki kekayaan, kepandaian, keterampilan dan kemampuan diri. Kita merasa lemah dan tidak berdaya. Sebenarnya, tidak ada seorang pun yang tak berguna. Artinya, Allah memberikan potensi dalam diri setiap manusia sehingga setiap orang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Karena itu, kita patut melihat ke dalam diri bahwa ada sesuatu yang dapat berpengaruh dalam kehidupan bersama. Misalnya, hanya bisa bermain gitar? Keahlian bermain gitar dapat dipakai memuji Tuhan, baik dalam ibadah umum atau pun sekolah minggu. Bersyukurlah atas keberadaan diri kita apa adanya. Kondisi apa adanya dapat menjadi sesuatu yang berguna dalam kehidupan bersama. Karena itu, bersyukurlah...

Read More